<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Burning Earth</title>
	<atom:link href="http://asaysurya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asaysurya.wordpress.com</link>
	<description>Let's Save Our Earth !</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Nov 2008 05:43:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='asaysurya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Burning Earth</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://asaysurya.wordpress.com/osd.xml" title="Burning Earth" />
	<atom:link rel='hub' href='http://asaysurya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dampak Pemanasan Global</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/14/dampak-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/14/dampak-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 03:47:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[TAHUKAH ANDA ?]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Dampak pemanasan global Pada masa-masa kini adalahsebagai berikut, laut-laut di Indonesia berada pada fase yang berbahaya. Ombak-ombak tinggi dan angin yang kencang menyebabkan kegiatan pelayaran dan kehidupan tepi laut terganggu, terutama bagi nelayan yang menggantungkan kehidupannya pada hasil laut. Apakah ini berkait dengan pemanasan global? Laporan dari IPCC menyatakan bahwa itu ada kaitannya. Tapi, hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=65&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="storycontent">
<p align="justify"><strong>Dampak pemanasan global </strong>Pada masa-masa kini adalahsebagai berikut, laut-laut di Indonesia berada pada fase yang berbahaya. <span id="more-65"></span>Ombak-ombak tinggi dan angin yang kencang menyebabkan kegiatan pelayaran dan kehidupan tepi laut terganggu, terutama bagi nelayan yang menggantungkan kehidupannya pada hasil laut. Apakah ini berkait dengan pemanasan global? Laporan dari IPCC menyatakan bahwa itu ada kaitannya. Tapi, hal itu tidak akan dibahas di sini, untuk saat ini.</p>
<p align="justify">Kehidupan manusia bergantung pada ekosistem laut, langsung atau tidak langsung. Makanan laut, garam, wisata laut hanyalah contoh dari kebergantungan manusia pada laut. Studi terkini menunjukkan bahwa kegiatan manusia pun memengaruhi laut, langsung maupun tidak langsung. Aktivitas daratan mendorong polutan dan sumber gizi menuju tepian pantai, mengakibatkan menghilangnya habitat, bahkan mengubah dan menghancurkan habitat alamiah. Aktivitas di laut pun mengambil sumber alam, menambah polusi, dan mengubah komposisi spesies.</p>
<div>Pengukuran temperatur yang diukur <span class="tags">oleh</span> instrumen-instrumen seluruh penjuru dunia, di darat dan laut sudah mengungkapkan bahwa sejak akhir abad 19 permukaan bumi dan bagian terendah atmosfer telah menghangat sekitar 0.6°C. Selama masa itu, emisi gas-gas rumah kaca, termasuk <span class="tags">gas</span> karbon dioksida, nitrogen oksida dan metana sudah meningkat, sebagian besar dari  hasil pembakaran  bahan bakar fosil untuk transportasi dan energi, dan <span class="tags">perubahan</span> tata guna lahan  termasuk penebangan hutan untuk pertanian.</div>
<div><strong>Dampak Pemanasan <span class="tags">global</span></strong> dan perubahan iklim  diakibatkan oleh efek rumah kaca. Konsekuensi-konsekuensi dari pemanasan global dan perubahan iklim  meliputi: suatu kenaikan pada permukaan laut yang <span class="tags">bisa</span> mengancam pulau dan masyarakat-masyarakat pantai, siklus hidrologi yang dapat meningkatkan kehebatan penyebab banjir dan musim kering, menyebabkan terjadinya curah hujan ekstrem,  dan perubahan ekologis yang bisa mengancam produktivitas <span class="tags">pertanian</span> dan banyak berpengaruh pada kesehatan manusia</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=65&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/14/dampak-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Kasus Pemanasan Global</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/14/studi-kasus-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/14/studi-kasus-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 03:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[TAHUKAH ANDA ?]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Global Warming atau pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Dewasa ini global warming yang berakibat pada berbagai macam bencana ekologis belum menjadi kesadaran dari berbagai pihak sebagai suatu masalah yang harus segera diminimalisir. Walaupun telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi, tuntutan peningkatan perekonomian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=63&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Global Warming atau pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Dewasa ini global warming yang berakibat pada berbagai macam bencana ekologis belum menjadi kesadaran dari berbagai pihak sebagai suatu masalah yang harus segera diminimalisir. <span id="more-63"></span></div>
<div>Walaupun telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi, tuntutan peningkatan perekonomian dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif), tetapi masih banyak yang tidak memahami dan kurang peduli pada global warming yang berimbas pada bencana saat ini. Global warming berakar dari efek rumah kaca yang disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.</div>
<p>Global Warming atau pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Dewasa ini global warming yang berakibat pada berbagai macam bencana ekologis belum menjadi kesadaran dari berbagai pihak sebagai suatu masalah yang harus segera diminimalisir. Walaupun telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi, tuntutan peningkatan perekonomian dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif), tetapi masih banyak yang tidak memahami dan kurang peduli pada global warming yang berimbas pada bencana saat ini.</p>
<p>Global warming berakar dari efek rumah kaca yang disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Menurut perkiraan, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5 &#8211; 4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat, tentunya dibarengi dengan perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi, meningkatnya suhu air laut mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut.<br />
Untuk mengantisipasi dampak dari gas rumah kaca yang sangat membahayakan kehidupan bumi, maka sangat dibutuhkan upaya untuk menanggulangi efek rumah kaca agar dampaknya tidak melebar beberapa tahun ke depan. Maka, diperlukan suatu tindakan penanggulangan yang konsisten dan berkelanjutan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan seperti mengurangi pemakaian gas freon dan bahan bakar minyak, menanam pohon sebagai langkah penghijauan dan masih banyak lagi, namun yang terpenting adalah kesadaran tiap warga masyarakat untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Namun yang kita lihat bahwasanya masih banyak yang belum sadar akan bahaya global warming ini bahkan yang lebih miris yaitu para generasi muda masih kurang diberikan pengetahuan tentang hal ini. Pada kenyataannya generasi sekarang terus menerus menggunakan dan memanfaatkan sumber daya alam tanpa memperhatikan efek samping yang dihasilkan dari pemakaian yang berlebihan dan tidak terkendali. Maka dari itu, diperlukan penanaman suatu pemikiran untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang dimulai sejak dini, karena kesadaran lingkungan yang terbentuk sejak dini dapat menjadi fondasi yang kuat untuk kedepannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=63&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/14/studi-kasus-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peringatan terkini &#8220;Global Warming&#8221; kajian ilmuwan AS &amp; Canada</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/peringatan-terkini-global-warming-kajian-ilmuwan-as-canada/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/peringatan-terkini-global-warming-kajian-ilmuwan-as-canada/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLE]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Pemanasan global atau &#8220;global warming&#8221; menjadi topik yang hangat di AS menyusul penolakan Presiden Bush yang bersikap skeptis terhadap pernyataan kalangan ilmuwan tentang semakin intensnya pemanasan global. Serta prakiraan terjadinya perusakan habitat bumi yang lebih serius serta lebih cepat sebagai akibat efek pemanasan global. AS bersikukuh sebagai negara maju satu-satunya di dunia yang menolak mengikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=31&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pemanasan global atau &#8220;<em>global warming</em>&#8221; menjadi topik yang hangat di AS menyusul penolakan Presiden Bush yang bersikap skeptis terhadap pernyataan kalangan ilmuwan tentang semakin intensnya pemanasan global</strong>. <span id="more-31"></span>Serta prakiraan terjadinya perusakan habitat bumi yang lebih serius serta lebih cepat sebagai akibat efek pemanasan global. AS bersikukuh sebagai negara maju satu-satunya di dunia yang menolak mengikuti Kyoto Protocol &#8211; yakni forum kerja sama antar negara-negara dunia Internasional yang berupaya menanggulangi terjadinya pemanasan global dengan mengedepankan upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak bumi atau energi yang berasal dari fosil.<br />
Awal April y.l. Presiden Bush sempat membangkitkan polemik hangat ketika pemerintahnya berupaya menentang pencalonan Dr.R.T. Watson &#8211; seorang ilmuwan Amerika terpandang yang kritis &#8211; sebagai ketua IPCC : Intern-governmental Panel on Climate Change. IPCC adalah himpunan lebih dari 2500 ilmuwan terkemuka di seluruh dunia yang bersama-sama tengah melakukan studi tentang perubahan iklim global khususnya dalam mengantisipasi &#8220;<em>global warming</em>&#8220;. Bagi pemerintah AS Dr. Watson dianggap terlalu melebih-lebihkan fakta mengenai isue pemanasan global dan sangat menyudutkan kalangan industri raksasa bidang energi, semisal Exxon.</p>
<p align="justify">Bulan Januari 2002 IPCC telah mempublikasikan bagian pertama dari penelitian bertajuk &#8220;<em>global warming</em>&#8221; yang mengungkapkan, a.l.: suhu atmosfir bumi diperkirakan akan meningkat mencapai 10.4 derajat Fahrenheit dalam jangka 100 tahun kedepan. Prakiraan ini menyiratkan terjadinya pemanasan yang lebih intens jika dibanding dengan efek pemanasan serupa yang terjadi sejak seabad yang lalu.<br />
Lebih dari itu efek pemanasan yang menimpa bagi penghuni habitat bumi diperkirakan juga akan lebih memburuk, mulai dari kepunahan species serangga tertentu yang tidak dapat beradaptasi, kekeringan air atau sebaliknya banjir yang semakin parah di berbagai belahan dunia tertentu, kenaikan muka air laut akibat melumernya es di kutub bumi yang menimbulkan banjir hebat khususnya di negara dengan permukaan datar yang meluas seperti Bangladesh, ataupun terjadinya El-Nino yang frekwensinya lebih sering terjadi disertai efek yang lebih dahsyat pula.</p>
<p align="justify">Riset terkini penelitian Universitas Michigan yang bekerjasama dengan ilmuwan Canada memberikan satu lagi bukti ilmiah yang lebih menegaskan mengenai pemanasan global dengan mengkaji efeknya pada bebatuan inti bumi yang dideteksi pada lapisan kerak bumi di berbagai pelosok bumi. Hasil riset mutakhir ini memperlihatkan bahwa bukti pemanasan pada bebatuan dasar pembentuk benua &#8211; &#8220;<em>continental rocks</em>&#8220;- melengkapi komponen dalam sistem tata iklim bumi yang telah lebih banyak diteliti sejak lama, yakni : permukaan lautan, lapisan atmosfir bumi, dan permukaan es di muka bumi (&#8220;<em>cryosphere</em>&#8220;).<br />
Seperti yang termuat dalam journal ilmiah Geophysical Research Letters edisi 15 April, Prof. Henry Pollack dari UM yang bekerja sama dengan ilmuwan Hugo Beltrami dari Universitas St.Francis Xavier di Nova Scotia, Canada menegaskan bahwa temuan yang terungkap dari penelitian ini menghapuskan keraguan yang ada sebelumnya tentang terjadinya pemanasan global yang sempurna atau mencakup pada seluruh komponen sistem iklim bumi, yaitu dengan pengamatan atas salah satu komponen penting dalam sistem iklim bumi : &#8220;<em>continental rocks</em>&#8221; yang merupakan hampir 30% dari seluruh total permukaan bumi.<br />
Pendekatan sekian banyak riset mutakhir guna merekonstruksi sejarah pemanasan bumi selama periode 140 tahun terakhir kebanyakan mengabaikan pengamatan atas salah satu komponen penting dalam sistem iklim bumi : &#8220;<em>continental rocks</em>&#8220;.</p>
<p align="justify">Ilmuwan menyimpulkan hasil penelitian berdasar data penelitian dalam 616 titik pengeboran yang memperlihatkan temuan kenaikan dalam panas yang dikandung oleh bebatuan dasar pembentuk benua (&#8220;<em>continental rocks</em>&#8220;) selama 500 tahun yang lalu yang diselidiki di berbagai lokasi tersebar di benua Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Australia, dan Eropa. Hasil deteksi yang memperlihatkan bahwa lebih dari separuh kejadian pemanasan intens yang terjadi pada kurun waktu permulaan abad 20 y.l. dan hampir sepertiganya terkandung pada periode sejak tahun 1950-an.<br />
Metoda penelitian yang dilakukan dengan pembacaan atas suhu pada peralatan thermometer berdaya ukur sensitif yang dimasukkan dalam lubang pemboran permukaan bumi sampai mencapai susunan lapisan cadas (&#8220;<em>rock formation</em>&#8220;) dalam perut bumi. Panas yang diserap melalui lapisan bebatuan di permukaan bumi dari atmosfir akan merambat perlahan ke dalam lapisan bebatuan permukaan dibawahnya dengan meninggalkan cirian efek yang berlainan menurut kedalaman lapis-lapis permukaan bebatuan bumi. Rekaman dari variasi pemanasan dalam periode harian atau musiman hanya akan penetrasi sampai kedalaman beberapa meter saja dari muka bumi lalu efek itu bisa dianggap &#8220;menghilang&#8221;. Lain halnya dengan efek pemanasan yang berlangsung selama ratusan tahun yang akan terekam pada lapisan bebatuan yang jauh lebih dalam dengan meninggalkan cirian pola pemanasan tertentu.</p>
<p align="justify">Ilmuwan AS dan Kanada pada akhirnya mengingatkan, bahwa secara mendasar intensitas suhu pemanasan yang terdeteksi pada batuan <em>continental rocks</em> adalah sangat serupa dengan hasil studi dalam pola pemanasan pada atmosfir bumi, lautan, maupun lapisan muka es di bumi, hingga menunjukkan betapa seriusnya tingkat pemanasan global yang tengah berlangsung di seluruh muka bumi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=31&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/peringatan-terkini-global-warming-kajian-ilmuwan-as-canada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mikroba Penyelamat Alami Global Warming</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/mikroba-penyelamat-alami-global-warming/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/mikroba-penyelamat-alami-global-warming/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[TAHUKAH ANDA ?]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Ditengah semaraknya isu perubahan iklim dan pemanasan dunia (global warming), Himpunan Mahasiswa Biologi Institut Pertanian Bogor (Himabio IPB) dan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional Sains Sebagai Penyelamat Lingkungan Senin (3/12) di Auditorium Rektorat Kampus IPB Darmaga. Seminar ini mendiskusikan jalan keluar menekan global warming di dunia melalui berbagai aksi diantaranya dengan menanam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=29&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ditengah semaraknya isu perubahan iklim dan pemanasan dunia (global warming), Himpunan Mahasiswa Biologi Institut Pertanian Bogor (Himabio IPB) dan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional Sains Sebagai Penyelamat Lingkungan Senin (3/12) di Auditorium Rektorat Kampus IPB Darmaga.<span id="more-29"></span></p>
<p align="justify">Seminar ini mendiskusikan jalan keluar menekan global warming di dunia melalui berbagai aksi diantaranya dengan menanam tanaman hijau. Tanaman hijau menyerap kelimpahan karbondioksida di udara, mengubahnya menjadi karbohidrat, selulosa serta oksigen. Fiksasi kanbondioksida ini tidak hanya dilakukan oleh tanaman, sebagian besar proses autotrofi dilakukan oleh mikroba.</p>
<p align="justify">Selain cara konvensional, metode non konvensional menjerat karbondioksida bisa dilakukan dengan memanfaatkan biota laut yaitu ganggang (algae). &#8220;Lebih dari 90 persen kontribusi laut dalam menyusun biosfer. Paling banyak fiksasi karbondioksiada terjadi di Laut. Mikroorganisme khususnya ganggang menggunakan karbondioksida di udara untuk proses autotropik. Oleh karenan itu, laut dianggap sebagai tempat pembenaman raksasa karbondioksida,&#8221; kata Guru Besar Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, Prof.Dr.Ir. Antonius Suwanto. Vinlandia telah membudidayakan ganggang pengganti kayu sebagai bahan baku kertas. Penggunaan ganggang di sana mampu menekan upaya penebangan pohon di hutan. Tak heran hutan Vinlandia tetap terjaga kelestariannya hingga kini.</p>
<p align="justify">Antonius mengatakan mikroorganisme menempati hampir semua relung kehidupan dan memainkan peranan penting dalam kesehatan planet bumi. Potensi pemanfaatan mikroba ini sangat besar. Di Indonesia saja belum banyak penelitian tentang pemanfaatan mikroba dari sumber air panas (hot spring). Padahal Indonesia memiliki banyak gunung berapi dan sumber air panas. Antonius mencontohkan mikroba akuavex dari pegunungan Dieng bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pohon buatan yang mengurangi pencemaran karbondioksida. &#8220;Mikroba dapat menjadi penyebab atau korban, namun juga dapat menjadi penyelamat alami mengatasi pemanasan global.&#8221;</p>
<p align="justify">Antonius juga mengkritisi ilmu Biologi saat ini yang kehilangan arah fokusnya. &#8220;Ilmu Biologi ibarat mata air yang mensuplai berbagai ilmu-ilmu hilir. Untuk menggiatkan penemuan-penemuan baru di bidang Ilmu Biologi, perlu ada revitalisasi Ilmu Biologi dalam perguruan tinggi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Seminar yang dibuka Dr.Ir.Ibnul Qoyyim dan Perwakilan Direktorat Kemahasiswaan, Ir.Bambang Riyanto ini juga menghadirkan pembicara lain seperti Prof.Dr.Ir.Irsal Ias, M.S (Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian), Prof.Dr.Ir. Mien Rifai (Emeritus Bidang Botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Dr.Sutrisno (Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=29&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/mikroba-penyelamat-alami-global-warming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sungai-sungai Es di Alaska Menyusut</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/sungai-sungai-es-di-alaska-menyusut/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/sungai-sungai-es-di-alaska-menyusut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLE]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[WASHINGTON, SELASA &#8211; Hampir semua sungai es (gletser) di setiap gugusan gunung di pulau-pulau daerah Alaska secara mencolok mengalami penyusutan dan penipisan terutama gletser di dataran rendah. Demikian intisari laporan yang baru diterbitkan oleh US Geological Survey. Buku yang berjudul &#8220;The Glaciers of Alaska&#8221; dan ditulis oleh ahli penelitian geologi USGS, Bruce Molnia menunjukkan lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=24&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/155634p.jpg"><img class="size-full wp-image-25 alignleft" style="padding-right:8px;" title="155634p" src="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/155634p.jpg?w=167&#038;h=116" alt="155634p" width="167" height="116" /></a><strong>WASHINGTON, SELASA</strong> &#8211; Hampir semua sungai es (gletser) di setiap gugusan gunung di pulau-pulau daerah Alaska secara mencolok mengalami penyusutan dan penipisan terutama gletser di dataran rendah. Demikian intisari laporan yang baru diterbitkan oleh US Geological Survey.<span id="more-24"></span></p>
<p>Buku yang berjudul &#8220;The Glaciers of Alaska&#8221; dan ditulis oleh ahli penelitian geologi USGS, Bruce Molnia menunjukkan lebih dari 99 persen gletser luas di Alaska menyusut. Sungai es Alaska terdapat di 11 gugusan gunung, satu pulau besar, satu rangkaian pulau, dan satu gugusan pulau. Laporan itu menggunakan gabungan citra satelit, foto udara, dan peta, yang didukung dengan literatur ilmiah, untuk mendokumentasikan pembagian dan prilaku sungai es di seluruh Alaska.</p>
<p>&#8220;Itu merupakan kajian menyeluruh keadaan gletser Alaska pada akhir Abad 20 dan awal Abad 21,&#8221; tulis para peneliti USGS dalam suatu pernyataannya.</p>
<p>Penulis buku tersebut menyimpulkan, untuk memantau gletser yang terpencar-pencar di wilayah yang berjauhan, pengindaraan jarak jauh satelit memberi satu-satunya cara yang layak untuk memantau perubahannya. Berkurangnya gletser merupakan reaksi atas perubahan jangka pendek dan panjang dalam iklim maritim.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=24&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/sungai-sungai-es-di-alaska-menyusut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/155634p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">155634p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Dia, Rumah Impian &#8220;Tanpa Listrik&#8221;</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/23/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/23/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLE]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/23/</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KAMIS - Memang, Jepang patut diacungi jempol. Paling tidak untuk konsep awal sebuah generasi baru rumah ramah lingkungan yang memadukan tradisi Jepang, teknologi serta pemikiran untuk berkontribusi dalam menangani pemanasan global. Jepang sudah bermimpi, rumah ini akan menjadi rumah masa depan yang peduli bumi. Semua energi dalam Zero Emission House yang digunakan untuk &#8216;menghidupkan&#8217; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=23&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/113745p.jpg"><img class="size-full wp-image-22 alignleft" style="padding-right:8px;" title="113745p" src="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/113745p.jpg?w=150&#038;h=108" alt="113745p" width="150" height="108" /></a><strong>JAKARTA, KAMIS -</strong> Memang, Jepang patut diacungi jempol. Paling tidak untuk konsep awal sebuah generasi baru rumah ramah lingkungan yang memadukan tradisi Jepang, teknologi serta pemikiran untuk berkontribusi dalam menangani pemanasan global.<span id="more-23"></span></p>
<p>Jepang sudah bermimpi, rumah ini akan menjadi rumah masa depan yang peduli bumi. Semua energi dalam <em>Zero Emission House</em> yang digunakan untuk &#8216;menghidupkan&#8217; rumah, berasal dari alam. Penerangan serta pendingin atau penghangat ruangan, misalnya, tak memerlukan listrik dari luar sehingga kita tidak perlu lagi membayar listrik dan menimbulkan pencemaran karena pembangkit yang menggunakan BBM.</p>
<p>Konsep <em>Zero Emission House</em> ini diperkenalkan secara khusus kepada Indonesia melalui Indonesia-Japan Expo 2008 yang diselenggarakan oleh surat kabar nasional <em>Kompas</em> dan surat kabar Nikkei dari Jepang dari tanggal 1-9 November di JIexpo Kemayoran Jakarta.</p>
<p>Chief Officer Coordination and Management Division Energy and Environment Technology Center NEDO, Mitsuhiro Yamazaki, mengatakan Zero Emission House yang dikembangkan oleh The New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) baru saja diluncurkan dalam KTT G8 di Hokkaido Toyaka medio tahun ini. NEDO baru membuat satu unit prototipe rumah ini di distrik Ibaraki.</p>
<p><strong>Dari alam dan ramah untuk alam</strong></p>
<p>Energi yang menghidupkan rumah pun tak satupun yang memerlukan listrik dari luar. Semua diusahakan sendiri oleh sistem panel surya dan pembangkit listrik tenaga angin skala kecil.</p>
<p>Energi matahari diserap oleh panel surya yang dipasang di atap. Lalu energi tersebut disimpan di baterai dan diolah menjadi listrik oleh <em>power supply</em>. Kapasitas penyimpanan baterai lithium mencapai 6.000 watt.</p>
<p>&#8220;Jadi ketika seminggu tidak ada matahari, tetap ada tenaga cadangan,&#8221; ujar salah satu penjaga stan NEDO.</p>
<p>Namun, energi matahari bisa saja meredup berminggu-minggu ketika musim hujan atau dingin di Jepang. Hal itu tak masalah, karena rumah dapat memperoleh energi dari pembangkit listrik tenaga angin berbentuk baling-baling dengan sistem penyimpanan yang sama di baterai dan <em>power supply. </em></p>
<p>&#8220;Hemat energi banget. Jadi kita nggak usah bayar listrik lagi deh di masa depan karena listriknya dari matahari. Matahari kan gratis,&#8221; ujar penjaga stan tersebut kepada sejumlah siswa SDN Pondok Pinang 12 Pagi Jakarta Selatan yang berkunjung melihat miniatur rumah ramah lingkungan tersebut.</p>
<p>Energi yang disimpan dan diolah menjadi listrik itu akhirnya mampu memanaskan air dan menghidupkan alat penerangan berteknologi OLED yang cahayanya mirip dengan cahaya alam. Jika cahaya bohlam hanya sekitar 10 persen dari cahaya alam. Teknologi OLED mencapai 70 persen. Selain itu, rumah ramah lingkungan nol emisi ini mengupayakan pula sistem pencahayaan <em>mirror duct</em>.</p>
<p>Cahaya dari luar dimanfaatkan untuk penerangan ruangan pada siang hari. Tak hanya teknologi elektriknya, dari segi fisik, rumah ini dibangun dari semen daur ulang yang disebut Eco-cement. Mutu semen sisa pembakaran limbah sampah kota ini dinilai hampir sama dengan semen biasa.</p>
<p>Material perabot rumahnya pun berasal dari bahan kayu sisa pembongkaran bangunan dan hasil penjarangan yang diolah dan direkatkan dengan lem ramah lingkungan dari <em>tannin</em> (di kulit kayu dan daun). Dindingnya pun dilengkapi dengan papan insulasi panas hibrida yang membuat panas terik matahari tidak berpengaruh terhadap suhu di dalam rumah. Teknologi ini membuat rumah tetap adem dan nyaman.</p>
<p><strong>Masih mahal</strong></p>
<p>Namun, Yamazaki mengakui investasi prototipenya di Ibaraki masih mencapai angka 100 juta yen atau sekitar Rp 9-10 milyar. Saat ini, Jepang sedang berupaya mengembangkannya di Ibaraki dengan memaksimalkan perpaduan teknologi lingkungan, teknologi konservasi energi dan teknologi energi terbarukan.</p>
<p>&#8220;Supaya makin murah, bisa dipakai (banyak orang) dan tetap menjadi solusi ramah lingkungan,&#8221; ujar Yamazaki.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=23&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/113745p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">113745p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suhu Tertinggi Tercatat di Arktik</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/suhu-tertinggi-tercatat-di-arktik/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/suhu-tertinggi-tercatat-di-arktik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[TAHUKAH ANDA ?]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[HASIL penelitian terbaru Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional (NOAA) Amerika Serikat menyebutkan, suhu musim gugur di kawasan Arktik, dekat Kutub Utara, tercatat lebih tinggi 5 derajat Celsius dari kondisi normal. Pada laporan berjudul &#8220;The Arctic Report Card 2008&#8243; disebutkan, perubahan di kawasan itu merupakan efek domino paling jelas di antara kawasan lain di dunia. Sulit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=15&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/220109p1.jpg"><img class="size-full wp-image-17 alignleft" style="padding-right:8px;" title="220109p1" src="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/220109p1.jpg?w=129&#038;h=91" alt="220109p1" width="129" height="91" /></a><strong>HASIL </strong>penelitian terbaru Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional (NOAA) Amerika Serikat menyebutkan, suhu musim gugur di kawasan Arktik, dekat Kutub Utara, tercatat lebih tinggi 5 derajat Celsius dari kondisi normal.<span id="more-15"></span></p>
<p>Pada laporan berjudul &#8220;The Arctic Report Card 2008&#8243; disebutkan, perubahan di kawasan itu merupakan efek domino paling jelas di antara kawasan lain di dunia. Sulit untuk tidak mengaitkannya dengan pemanasan global.</p>
<p>Laporan hasil inisiatif penelitian tahun 2006 itu memonitor kondisi Arktik, termasuk atmosfer, lautan es, air laut, serta kehidupan flora dan fauna. Hasilnya, atmosfer, lautan es, dan Greenland diberi kode merah yang diartikan perubahan yang terjadi terkait erat dengan pemanasan.</p>
<p>Melelehnya bongkahan es hingga berkilo-kilometer kubik di kawasan Arktik diyakini sebagai salah satu penyebab utama kenaikan permukaan laut saat ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=15&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/suhu-tertinggi-tercatat-di-arktik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/220109p1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">220109p1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pada 2100, Permukaan Laut Naik Satu Meter</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/pada-2100-permukaan-laut-naik-satu-meter/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/pada-2100-permukaan-laut-naik-satu-meter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLE]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[BERLIN, KAMIS &#8211; Permukaan laut diperkirakan akan naik setinggi satu meter pada akhir abad ke-21. Demikian laporan yang dilansir sebuah lembaga riset terkemuka Jerman Kamis (10/10). Menurut lembaga itu, kenaikan ini jauh lebih tinggi ketimbang proyeksi paling optimis yang disampaikan panel iklim PBB, IPCC (Intergovernmental Panel for Clomate Change). &#8220;Kita sebaiknya bersiap-siap dalam menghadapi naiknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=13&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BERLIN, KAMIS</strong> &#8211; Permukaan laut diperkirakan akan naik setinggi satu meter pada akhir abad ke-21. Demikian laporan yang dilansir sebuah lembaga riset terkemuka Jerman Kamis (10/10). <span id="more-13"></span>Menurut lembaga itu, kenaikan ini jauh lebih tinggi ketimbang proyeksi paling optimis yang disampaikan panel iklim PBB, IPCC (Intergovernmental Panel for Clomate Change).</p>
<p>&#8220;Kita sebaiknya bersiap-siap dalam menghadapi naiknya permukaan laut setinggi satu meter pada abad ini,&#8221; kata Joachim Schellnhuber, kepala Institut Postdam bagi Riset Dampak Iklim (PIK), yang memberikan nasehat kepada pemerintah dalam kebijakan lingkungan.</p>
<p>Tingkat pencairan es di Himalaya dan Greenland telah meningkat menjadi dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebagian karena faktor naiknya emisi gas rumah kaca dari berbagai pembangkit listrik China.</p>
<p>Pada Februari 2007, dalam volume pertama laporan bersejarahnya, IPCC meramalkan kenaikan permukaan berbagai samudera antara 19 sentimeter hingga 59 sentimeter pada 2100. Kenaikan permukaan laut satu meter saja boleh jadi akan membuat pulau-pulau di Samudera Pasifik yang letaknya rendah, seperti Tuvalu, akan terendam, dan banjir besar akan menggenangi Bangladesh dan mengancam kota-kota, dari New York hingga Buenos Aires.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=13&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/pada-2100-permukaan-laut-naik-satu-meter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Global Warming</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/global-warming/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/global-warming/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTICLE]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=11&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. <span id="more-11"></span>Apa penyebabnya? Meteor jatuh? <a href="http://langitselatan.com/2007/05/02/iklim-global-dan-iklim-matahari/" target="_blank">Variasi panas Matahari</a>? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?</p>
<p>Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?</p>
<p>Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.</p>
<p>Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).</p>
<p>Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.</p>
<p>Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.</p>
<p>Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.</p>
<p>Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO<sub>2</sub>e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO<sub>2</sub> &#8211; yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO<sub>2</sub> per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.</p>
<p>Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya <a href="http://langitselatan.com/2007/04/24/dalam-rangka-memperingati-hari-bumi-inconvenient-truth/" target="_blank"><em>“An Inconvenient Truth”</em></a> yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.</p>
<p>Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (<em>Intergovernmental Panel on Climate Change</em>) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai <em>Radiative Forcing</em> sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Gb.1).</p>
<div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:500px;"><img src="/2008-11-11/ayu/Global%20Warming%20-%20Apa%20dan%20mengapa%20_%20langitselatan.com_files/ipcc2007.jpg" alt="Laporan IPCC, 2007." width="500" /><br />
<span>Hasil perhitungan perkiraan agen pendorong terjadinya pemanasan global dan mekanismenya (kolom satu), berdasarkan pengaruh radiasi (Radiative Forcing), dalam satuan Watt/m^2, untuk sumber antropogenik dan sumber yang lain, tanda merah dan nilai positif dari kolom dua dan tiga berarti sumbangan pada pemanasan, sedangkan biru adalah efek kebalikannya. Kolom empat menyatakan dampak pada skala geografi, sedangkan kolom kelima menyatakan tingkat pemahaman ilmiah (Level of Scientific Understanding), Sumber: Laporan IPCC, 2007.</span></div>
<p>Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.</p>
<p>Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 &#8211; 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N<sub>2</sub>O) dari 270 ppb &#8211; 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.</p>
<p>Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.</p>
<p>Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua tulisan ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=11&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/global-warming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/2008-11-11/ayu/Global%20Warming%20-%20Apa%20dan%20mengapa%20_%20langitselatan.com_files/ipcc2007.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Laporan IPCC, 2007.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awas, 2 Jenis Gas Memperburuk Efek Rumah Kaca</title>
		<link>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/awas-2-jenis-gas-memperburuk-efek-rumah-kaca/</link>
		<comments>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/awas-2-jenis-gas-memperburuk-efek-rumah-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 08:24:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Burning Earth</dc:creator>
				<category><![CDATA[TAHUKAH ANDA ?]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Weblog E-Sewaka Dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asaysurya.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[WASHINGTON, MINGGU &#8211; Selain karbon dioksida, ada dua gas lagi yang dikhawatirkan mempercepat pemanasan global lebih buruk lagi. Keduanya adalah metan dan nitrogen triflorida yang berasal dari tanaman purba dan teknologi layar flat-panel. Menurut para pengamat lingkungan, kedua gas tersebut menimbulkan efek rumah kaca seperti karbon dioksida. Bahkan, kedua gas tersebut memberi efek hampir sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=8&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="loadarea" style="margin-bottom:5px;width:298px;"><img src="/2008-11-11/ayu/awas.2.jenis.gas.memperburuk.efek.rumah.kaca_files/102129p.jpg" border="0" alt="" width="298" /></div>
<p><a href="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/102129p.jpg"><img class="size-full wp-image-33 alignleft" style="padding-right:8px;" title="102129p" src="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/102129p.jpg?w=149&#038;h=112" alt="102129p" width="149" height="112" /></a></p>
<p><strong>WASHINGTON, MINGGU</strong> &#8211; Selain karbon dioksida, ada dua gas lagi yang dikhawatirkan mempercepat pemanasan global lebih buruk lagi. Keduanya adalah metan dan nitrogen triflorida yang berasal dari tanaman purba dan teknologi layar flat-panel.<span id="more-8"></span></p>
<p>Menurut para pengamat lingkungan, kedua gas tersebut menimbulkan efek rumah kaca seperti karbon dioksida. Bahkan, kedua gas tersebut memberi efek hampir sama dari yang disebabkan karbondioksida. Penelitian terbaru menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir efek kedua gas tersebut semakin meningkat di luar perkiraan. Para pengamat cuaca juga terkejut dengan peningkatan tersebut.</p>
<p>Selama ini gas metan masih menjadi kekhawatiran terbesar setelah karbon dioksida. Pasalnya, gas tersebut dianggap sebagai gas efek rumah kaca kedua setelah karbon dioksida berdasar besarnya efek pemanasan yang dihasilkan dan jumlahnya di atmosfer. Gas metan menyumbang sepertiga dari efek karbondioksida terhadap pemanasan global.</p>
<p>Metan berasal dari gas alamiah, pertambangan batubara, kotoran hewan dan tumbuhan yang telah membusuk. Hal yang paling dikhawatirkan para ilmuwan adalah tumbuhan yang membusuk. Beberapa ribu tahun yang lalu, miliaran ton metan terbentuk dari pembusukan tumbuh-tumbuhan Arktik di Kutub Utara. Tumbuhan itu membusuk dan membeku di dasar laut. Saat kutub utara mulai menghangat, metan yang tersimpan di dasar laut itu dapat mempercepat pemanasan di kawasan itu.</p>
<p>Para ilmuwan telah berupaya untuk mempelajari bagaimana proses tersebut akan bermula. Saat ini data yang terkumpul masih berupa data awal, belum ada kesimpulan. Tetapi para ilmuwan tersebut mengatakan apa yang mereka lihat di awal ini adalah permulaan pelepasan metan di kutub utara.</p>
<p>Berdasar pengamatan mereka, dalam delapan tahun terakhir kadar metan di atmosfer masih stabil yang diperkirakan setiap 40 menit oleh monitor pengawas dekat tebing di tepi laut. Tetapi pada 2006 hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan. Jumlah gas metan di udara melonjak dari sekitar 28 juta ton pada Juni 2006 hingga Oktober 2007. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 5,6 miliar ton metan di udara.</p>
<p>&#8220;Jika hal ini terus terjadi, maka akan buruk efeknya,&#8221; tutur ilmuwan atmosfer MIT Ron Prinn, kepala studi metan, seperti yang dipaparkannya dalam jurnal Riset Geofisik edisi 31 Oktober. &#8220;Saat kadar metan terus meningkat, tentunya akan mempercepat perubahan iklim,&#8221; tuturnya.</p>
<p><strong>Diremehkan</strong></p>
<p>Di lain pihak, kadar nitrogen triflorida di udara diperkirakan meningkat empat kali lipat beberapa tahun terakhir dan 30 kali lipat sejak 1978. Namun, peningkatan tersebut hanya menyumbang 0,04 persen dari total efek pemanasan global yang disebabkan oleh karbondioksida. Gas ini biasanya digunakan sebagai semacam pembersih pada industri manufaktur televisi dan monitor komputer serta panel.</p>
<p>Nitrogen triflorida yang dihiting dengan skala bagian per triliun di udara selama ini memang dianggap ancaman tak berarti. Menurut profesor geofisika Ray Weiss di Lembaga Oseanografi, upaya awal untuk mengetahui jumlah gas tersebut di udara memang diremehkan mengingat jumlahnya yang tak terlalu besar.</p>
<p>Tetapi gas tersebut justru dikategorikan sebagai salah satu gas yang lebih berbahaya karena ratusan kali lebih kuat menyimpan panas daripada karbondioksida. Sedangkan metan hanya 20 kali lebih berbahaya dari karbondioksida per basis molekul. Karbondioksida masih menjadi gas yang paling berbahaya karena kadarnya yang sangat tinggi dan pertumbuhannya yang cepat.</p>
<p>Menurut ilmuwan lingkungan Orjan Gustafsson dari Universitas Stockholm, sebuah survei di musim panas ini menemukan kadar metan di Laut Siberia timur meningkat dari 10.000 kali lebih tinggi dari kadar normalnya. Ilmuwan di bidang lingkungan Stephen Scheneider dari Universitas Stanford juga memperingatkan peningkatan dua gas tersebut adalah fenomena baru.</p>
<p>&#8220;Kita perlu yakin dengan semua hal baru ini sebagai kecenderungan global yang perlu diwaspadai,&#8221; ujarnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asaysurya.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asaysurya.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asaysurya.wordpress.com&amp;blog=5502591&amp;post=8&amp;subd=asaysurya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asaysurya.wordpress.com/2008/11/13/awas-2-jenis-gas-memperburuk-efek-rumah-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fda02a81b67e173aaf7fdf2ab4a84deb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Burning Earth</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/2008-11-11/ayu/awas.2.jenis.gas.memperburuk.efek.rumah.kaca_files/102129p.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://asaysurya.files.wordpress.com/2008/11/102129p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">102129p</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
